Klinik Bedah Plastik DOY JUN
Lifting Wajah

DOY JUN Lifting Guide

Ciri Facelift Deep Plane Menurut Penelitian

Berdasarkan ringkasan makalah penelitian, artikel ini merangkum konsep facelift deep plane, hasil meta-analisis yang membandingkannya dengan facelift SMAS, hal yang perlu diperhatikan saat menafsirkan hasil tersebut, anatomi saraf wajah dan risikonya, serta pertimbangan untuk wajah orang Asia dan pembiusan.

6 makalah rujukan

Ringkasan utama

  • Facelift deep plane atau bidang dalam (deep plane facelift) berkembang sebagai salah satu dari berbagai pendekatan untuk memindahkan lapisan SMAS [1].
  • Dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2025, kepuasan pasien adalah 94,4% pada deep plane dan 87,8% pada SMAS, sedangkan angka komplikasi keseluruhan adalah 17,2% pada deep plane dan 10,3% pada SMAS [3].
  • Analisis ini bukan perbandingan langsung kedua metode dalam penelitian yang sama, melainkan meta-analisis kelompok tunggal (single-arm) yang mengumpulkan hasil tiap metode secara terpisah, dan para penulis menyimpulkan bahwa kedua metode sama-sama menunjukkan hasil yang kokoh dan tahan lama [3].
  • Ada telaah literatur yang menyebut efek berbagai teknik facelift umumnya serupa, sehingga ditekankan bahwa masih diperlukan penelitian berkualitas tinggi dengan penilaian yang terstandar [4].

Seperti Apa Metode Facelift Deep Plane?

Facelift telah berkembang sejak awal tahun 1900-an, dan seiring makin luasnya pemahaman tentang anatomi wajah dan proses penuaan, sistem muskuloaponeurotik superfisial (SMAS) menjadi fokus utama untuk mendapatkan hasil yang alami dan tahan lama [1]. Setelah itu, muncul berbagai pendekatan untuk memindahkan lapisan SMAS, seperti lifting subperiosteal, lifting komposit, dan lifting deep plane [1].

Metode deep plane adalah konsep yang masuk ke lapisan di bawah SMAS lalu memindahkan kulit dan SMAS bersama-sama. Tinjauan yang merangkum anatomi deep plane menekankan titik-titik tempat kedalaman dan jalur cabang saraf wajah berubah selama diseksi (pelepasan jaringan) di bawah SMAS, serta peran ruang potensial di bawah SMAS dalam diseksi deep plane [2].

Hasil Penelitian yang Membandingkannya dengan Facelift SMAS

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang terbit pada tahun 2025 menelusuri penelitian dari tahun 2000 hingga 2024, menyaring 2.474 makalah, dan akhirnya memasukkan 21 penelitian dengan 2.896 pasien [3]. Luaran utamanya adalah kepuasan keseluruhan yang dinilai oleh pasien sendiri [3].

Kepuasan pasien adalah 94,4% pada deep plane (interval kepercayaan 95%: 84,8 hingga 99,7) dan 87,8% pada SMAS (interval kepercayaan 95%: 84,3 hingga 91,3) [3]. Angka komplikasi keseluruhan dilaporkan sebesar 17,2% pada deep plane dan 10,3% pada SMAS [3].

Hasil ini perlu dibaca dengan hati-hati. Karena merupakan meta-analisis kelompok tunggal yang mengumpulkan hasil tiap metode secara terpisah, analisis ini tidak membandingkan kedua metode secara langsung dalam kondisi yang sama, dan interval kepercayaan untuk kepuasan pada deep plane pun lebar [3]. Penelitian yang sama menyatakan bahwa metode mana yang hasilnya lebih tahan lama masih diperdebatkan, dan menyimpulkan bahwa kedua metode sama-sama menunjukkan hasil yang kokoh dan tahan lama serta kepuasan pasien yang tinggi [3].

Apakah Ada Teknik yang Lebih Unggul?

Tujuan utama facelift adalah mengembalikan bentuk, volume, dan kontur wajah yang muda, dan berbagai teknik telah dikembangkan untuk mencapai hasil yang sama [4]. Tinjauan tentang hal-hal yang masih diperdebatkan seputar facelift merangkum bahwa, untuk pertanyaan apakah ada teknik terbaik, literatur menunjukkan efek berbagai pilihan tersebut umumnya serupa [4].

Tinjauan yang sama menekankan perlunya penelitian berkualitas tinggi dengan penilaian sebelum operasi dan penilaian hasil setelah operasi yang terstandar [4]. Seorang penulis yang telah menyempurnakan teknik jahitan SMAS bertumpuk (imbrikasi) selama lebih dari 25 tahun juga melaporkan bahwa metodenya andal, aman, dan memberikan kepuasan pasien yang tinggi [1]. Hasil operasi sulit dinilai hanya dari nama tekniknya.

Anatomi dan Keamanan

Tinjauan tentang anatomi deep plane menjelaskan bahwa pemahaman yang kuat tentang anatomi wajah sangat penting bagi dokter yang melakukan facelift, dan memahami pengaruh penuaan terhadap anatomi wajah sama pentingnya untuk penilaian sebelum operasi [2]. Tinjauan yang sama juga membahas struktur anatomi utama di bagian dalam leher [2].

Metode yang melakukan diseksi di bawah SMAS dikerjakan pada lapisan yang dekat dengan cabang saraf wajah, sehingga pengetahuan tentang perubahan kedalaman dan jalur cabang saraf sangat ditekankan [2]. Dalam meta-analisis di atas, angka komplikasi keseluruhan pada deep plane dilaporkan sebesar 17,2% [3]. Anda perlu mendapatkan penjelasan yang cukup sebelum operasi tentang risiko seperti perdarahan, hematoma (penumpukan darah), infeksi, cedera saraf, bekas luka, dan asimetri, dan kecepatan pemulihan pun berbeda pada setiap orang.

Pertimbangan pada Wajah Orang Asia

Tinjauan tentang facelift pada orang Asia menjelaskan bahwa perbedaan budaya dan bentuk wajah mengubah harapan terhadap kecantikan dan kesan muda, sehingga teknik yang ada saat ini perlu disesuaikan dalam penerapannya [5]. Disebutkan bahwa diperlukan strategi untuk memahami aspek budaya dan anatomi pasien Asia serta menggunakan teknik yang sesuai [5].

Para penulis tinjauan ini menilai bahwa teknik deep plane yang mereka perkenalkan cocok untuk pasien Asia [5]. Namun, ini adalah pendapat yang didasarkan pada pengalaman penulis, dan komposisi ras pasien dalam meta-analisis sebelumnya tidak dicantumkan dalam ringkasan makalahnya.

Pembiusan dan Cakupan Operasi

Tinjauan tentang facelift dengan anestesi lokal menjelaskan bahwa pemeriksaan riwayat kesehatan yang teliti penting dalam memilih pasien, dan orang yang tidak pernah bermasalah saat perawatan gigi serta tidak memiliki riwayat kecemasan berat merupakan kandidat yang lebih sesuai [6]. Bila ditambahkan obat sedasi, disebutkan bahwa saturasi oksigen, elektrokardiogram (EKG), dan tekanan darah perlu dipantau [6].

Tinjauan yang sama menilai bahwa facelift anterior dengan bekas luka pendek (short-scar anterior facelift), yang diseksi deep plane-nya terbatas dan waktu operasinya singkat, cocok untuk anestesi lokal [6]. Luas diseksi juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan saat menentukan metode pembiusan.

Hal yang Perlu Ditanyakan saat Konsultasi

Kepuasan pasien yang tinggi dilaporkan baik pada facelift deep plane maupun facelift SMAS [3]. Namun, hasilnya berbeda tergantung struktur wajah dan kondisi kulit masing-masing, jadi sebaiknya Anda memastikan letak dan tingkat kekenduran melalui pemeriksaan, lalu memutuskan setelah membandingkan kelebihan dan kekurangan setiap metode.

  • Pada lapisan mana diseksi dilakukan dan apa alasannya
  • Dasar bukti untuk perubahan yang diharapkan dan lama hasilnya bertahan
  • Jenis komplikasi dan cara menanganinya
  • Metode pembiusan dan proses pemulihan

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah deep plane lebih baik daripada facelift SMAS?
Dalam meta-analisis tahun 2025, kepuasan pasien adalah 94,4% pada deep plane dan 87,8% pada SMAS, tetapi angka komplikasinya 17,2% pada deep plane dan 10,3% pada SMAS [3]. Karena analisis ini tidak membandingkan kedua metode secara langsung, sulit memastikan mana yang lebih baik, dan para penulis menyimpulkan bahwa kedua metode sama-sama menunjukkan hasil yang kokoh [3]. Tinjauan lain juga merangkum bahwa efek berbagai teknik umumnya serupa [4].
Berapa lama hasil facelift deep plane bertahan?
Meta-analisis tersebut memasukkan kepuasan jangka panjang lebih dari 1 tahun sebagai luaran sekunder, dan menyimpulkan bahwa kedua metode sama-sama menunjukkan hasil yang tahan lama [3]. Namun, disebutkan pula bahwa metode mana yang lebih tahan lama masih diperdebatkan [3]. Penuaan terus berlanjut setelah operasi, sehingga seberapa lama hasilnya bertahan berbeda pada setiap orang.
Apakah operasi ini bisa dilakukan dengan anestesi lokal?
Tinjauan tentang facelift dengan anestesi lokal menilai facelift anterior dengan bekas luka pendek, yang diseksi deep plane-nya terbatas dan waktu operasinya singkat, sebagai metode yang cocok untuk anestesi lokal [6]. Dijelaskan bahwa kandidat dipilih dengan memeriksa riwayat kesehatan dan tingkat kecemasan, dan pemantauan diperlukan bila obat sedasi digunakan [6]. Metode pembiusan ditentukan dengan melihat cakupan operasi dan kondisi kesehatan Anda.

Referensi

  1. Rousso DE, Adams AS. Nuances in Superficial Musculoaponeurotic System Rhytidectomy. Facial Plast Surg Clin North Am. 2020.PubMed 32503715DOI
  2. Surek CC, Moorefield A. Deep Plane Anatomy for the Facelift Surgeon: A Comprehensive Three-Dimensional Journey. Facial Plast Surg Clin North Am. 2022.PubMed 35501058DOI
  3. Khoury S, Almubarak Z, Khan H, et al. The Deep Plane versus SMAS Facelift: A Systematic Review and Meta-Analysis. Aesthetic Plast Surg. 2025.PubMed 40801931DOI
  4. Barrett DM, Gerecci D, Wang TD. Facelift Controversies. Facial Plast Surg Clin North Am. 2016.PubMed 27400849DOI
  5. Kwon TK, Choi YH. Asian Facelift. Facial Plast Surg Clin North Am. 2021.PubMed 34579831DOI
  6. DeJoseph LM, Pou JD. Local Anesthetic Facelift. Facial Plast Surg Clin North Am. 2020.PubMed 32503722DOI

Artikel ini adalah terjemahan dari informasi kesehatan umum yang disusun dalam bahasa Korea oleh Klinik Bedah Plastik DOY JUN berdasarkan ringkasan (abstrak) makalah di jurnal ilmiah internasional. Metode dan hasil perawatan berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing, jadi pastikan diagnosis dan rencana yang tepat melalui konsultasi dengan dokter spesialis.

Lihat semua panduan Lifting Wajah

Panduan operasi Lifting Wajah

Tanya Jawab Dokter

Semua Tanya Jawab

Baca juga

Konsultasi · Reservasi

Reservasi Cepat

+82-2-511-7705

Konsultasi

Jam Praktik & Lokasi

Lantai 12, Gedung Urbanhive, 476 Gangnam-daero, Gangnam-gu, Seoul

doyjunps@naver.com

Konsultasi Telepon

Jam Praktik

Senin sampai Jumat

10:00 ~ 19:00

Sabtu

10:00 ~ 17:00

※Tanpa istirahat makan siang di semua hari praktik