Klinik Bedah Plastik DOY JUN
Perawatan Sebelum & Sesudah Operasi

DOY JUN Care Guide

Gangguan Dismorfik Tubuh dan Operasi Plastik

Berdasarkan literatur medis, artikel ini merangkum apa itu gangguan dismorfik tubuh, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu terpaku pada kekurangan kecil atau kekurangan yang hampir tidak terlihat oleh orang lain, seberapa sering kondisi ini ditemukan di lingkungan operasi plastik, dan mengapa kondisi ini perlu diperhatikan sebelum operasi.

6 makalah rujukan

Ringkasan utama

  • Gangguan dismorfik tubuh adalah masalah kesehatan mental berupa keterpakuan berlebihan pada kekurangan penampilan yang kecil atau hanya dibayangkan, sehingga kehidupan sehari-hari terganggu [1].
  • Dalam tinjauan sistematis yang menghimpun berbagai penelitian, perkiraan prevalensinya adalah 1,9% pada orang dewasa umum, 13,2% di lingkungan operasi estetika, dan 20,1% di lingkungan rinoplasti [2].
  • Dilaporkan bahwa bila orang dengan gangguan dismorfik tubuh menjalani operasi, hasilnya umumnya tidak baik dan gejalanya justru dapat memburuk [1, 3].
  • Pengobatan kesehatan mental seperti terapi perilaku kognitif menjadi inti penanganannya, dan dijelaskan bahwa pengobatan ini membantu sebagian besar pasien [1].

Apa Itu Gangguan Dismorfik Tubuh?

Gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder) adalah gangguan kesehatan mental yang terutama muncul pada remaja dan dewasa muda, tanpa memandang jenis kelamin [1]. Orang yang mengalaminya memandang dirinya secara terdistorsi sehingga terpaku pada kekurangan yang kecil atau sebenarnya tidak ada di bagian tubuh mana pun, seperti wajah, hidung, kulit, atau rambut, dan pada akhirnya kehidupan sehari-harinya terganggu [1].

Orang dengan kondisi ini sering mendatangi banyak dokter untuk diperiksa dan meminta tindakan estetika karena kekurangan yang menurut mereka ada [1]. Di klinik bedah plastik, gangguan ini ditemukan pada sebagian pasien yang meminta operasi estetika berkali-kali [4]. Kondisi ini relatif umum, tetapi sudah lama kurang dikenal [1].

Seberapa Sering Kondisi Ini Ditemukan?

Tinjauan sistematis tahun 2016 memperkirakan prevalensi di berbagai lingkungan dengan rata-rata tertimbang [2]. Angkanya 1,9% pada orang dewasa umum, 2,2% pada remaja, dan 3,3% pada kelompok pelajar dan mahasiswa [2]. Sebaliknya, prevalensi diperkirakan lebih tinggi di lingkungan operasi estetika umum, yaitu 13,2%, di lingkungan rinoplasti 20,1%, di lingkungan bedah ortognatik (operasi koreksi rahang) 11,2%, dan di poliklinik kulit 11,3% [2].

Di sebagian besar lingkungan, perempuan lebih banyak daripada laki-laki, tetapi tidak demikian di lingkungan operasi estetika dan dermatologi [2]. Para peneliti menyimpulkan bahwa gangguan dismorfik tubuh umum ditemukan di sebagian lingkungan psikiatri dan estetika, tetapi sering tidak terdeteksi [2]. Angka ini adalah perkiraan yang menghimpun penelitian dari berbagai negara, sehingga tidak dapat dianggap sama dengan situasi di Korea.

Alasan Operasi Mungkin Tidak Membantu

Tinjauan di bidang bedah plastik wajah menilai bahwa gangguan dismorfik tubuh dan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) umum ditemukan dalam praktik estetika, yaitu hingga 15% pasien [3]. Dijelaskan bahwa bila pasien dengan kondisi ini dioperasi, operasi tidak hanya berakhir dengan ketidakpuasan, tetapi juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada [3]. Karena itu, tinjauan ini menekankan bahwa menghindari operasi dan merujuk pasien ke terapi kognitif mutlak diperlukan [3].

Tinjauan tahun 2014 juga menilai bahwa hasil operasi umumnya tidak baik dan dapat berujung pada memburuknya gejala dan kemarahan, sehingga perlu intervensi sejak dini untuk mencegah lingkaran operasi berulang [1]. Gangguan dismorfik tubuh juga merupakan kondisi yang dapat berujung pada depresi berat dan pikiran bunuh diri [1].

Apa Bedanya Kekhawatiran tentang Penampilan dengan Gangguan?

Ketidakpuasan terhadap penampilan itu sendiri adalah fenomena psikologis yang umum, dan dapat dialami tidak hanya oleh orang dengan berat badan berlebih, tetapi juga oleh orang dengan berat badan normal [5]. Dilaporkan bahwa orang yang menjalani tindakan pembentukan tubuh umumnya memusatkan perhatian pada area yang ingin diubah, dan citra tubuhnya sering membaik setelah tindakan [5]. Namun, literatur ini didasarkan pada masyarakat Barat [5].

Masalahnya muncul bila ketidakpuasan menjadi ekstrem. Ketidakpuasan citra tubuh yang ekstrem dapat merupakan gejala gangguan kesehatan mental seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa, atau gangguan dismorfik tubuh, dan kondisi seperti ini dapat menjadi alasan untuk tidak melakukan tindakan estetika [5].

Tinjauan tahun 2022 yang mengkaji dampak psikologis operasi estetika merangkum bahwa operasi tampaknya meningkatkan citra tubuh, tetapi para peneliti berbeda pendapat tentang efeknya terhadap harga diri, kecemasan, dan depresi [6]. Kondisi kesehatan mental sebelum operasi, tingkat pendidikan, jenis operasi, masa pemulihan, jenis kelamin, dan usia memengaruhi arah dan besarnya perubahan psikologis setelah operasi [6].

Tanda yang Dapat Anda Periksa Sendiri

Tinjauan tahun 2020 mengemukakan tanda-tanda yang perlu diperhatikan dengan cermat oleh tenaga medis [3]. Bila beberapa hal berikut sesuai dengan kondisi Anda, memeriksa kondisi perasaan dan pikiran Anda terlebih dahulu sebelum operasi dapat membantu.

  • Memberi makna emosional yang sangat besar dan tidak realistis pada satu bentuk wajah
  • Riwayat menjalani tindakan atau operasi berkali-kali
  • Ingin memperbaiki hidung meskipun sejak awal bentuknya hampir normal
  • Luka psikologis di masa kecil
  • Memiliki beberapa masalah kesehatan mental sekaligus
  • Kesulitan dalam kehidupan sosial atau hubungan dengan orang lain

Cara Mendapatkan Bantuan

Pengobatan gangguan dismorfik tubuh berpusat pada obat golongan penghambat ambilan kembali serotonin selektif (selective serotonin reuptake inhibitor, SSRI) dan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), dan dijelaskan bahwa pengobatan ini membantu sebagian besar pasien [1]. Pendekatan bersama oleh ahli dari berbagai bidang sangat dianjurkan [1].

Bila pikiran tentang penampilan menyita banyak waktu dalam sehari dan kehidupan sehari-hari terasa berat, sebaiknya Anda lebih dulu berkonsultasi ke dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater). Bila Anda merasa depresi atau muncul pikiran ekstrem seperti ingin mengakhiri hidup, jangan menanggungnya sendirian; segera minta bantuan dari layanan kesehatan jiwa terdekat atau orang-orang di sekitar Anda. Dalam konsultasi di klinik bedah plastik pun, bila Anda menceritakan kekhawatiran ini dengan jujur, Anda dan dokter dapat bersama-sama menilai apakah operasi merupakan pilihan yang tepat saat ini.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah menginginkan operasi plastik berkali-kali berarti mengalami gangguan dismorfik tubuh?
Tidak selalu demikian. Riwayat menjalani tindakan berkali-kali disebut sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan dengan cermat [3]. Namun, diagnosis ditegakkan melalui penilaian oleh tenaga ahli. Kriteria pentingnya adalah apakah pikiran tentang penampilan mengganggu kehidupan sehari-hari [1].
Apakah orang dengan gangguan dismorfik tubuh tidak boleh menjalani operasi?
Dijelaskan bahwa gangguan dismorfik tubuh dapat menjadi alasan untuk tidak melakukan tindakan estetika [5]. Operasi dapat berujung pada ketidakpuasan dan memburuknya gejala, sehingga dianjurkan untuk terlebih dahulu dirujuk ke pengobatan kesehatan mental [3]. Sebaiknya jalani pengobatan dan pantau kondisinya, lalu diskusikan kembali.
Apakah operasi plastik akan membuat saya lebih percaya diri?
Dalam tinjauan tahun 2022, operasi estetika tampak meningkatkan citra tubuh, tetapi pendapat tentang efeknya terhadap harga diri, kecemasan, dan depresi berbeda-beda [6]. Berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan mental sebelum operasi, memengaruhi hasilnya, sehingga dapat berbeda pada setiap orang [6].

Referensi

  1. Husain Z, Janniger EJ, Krysicka JA, et al. Body dysmorphic disorder: beyond skin deep. G Ital Dermatol Venereol. 2014.PubMed 25068234
  2. Veale D, Gledhill LJ, Christodoulou P, et al. Body dysmorphic disorder in different settings: A systematic review and estimated weighted prevalence. Body Image. 2016.PubMed 27498379DOI
  3. Wever CCC, Wever AMEA, Constantian M. Psychiatric Disorders in Facial Plastic Surgery. Facial Plast Surg Clin North Am. 2020.PubMed 33010863DOI
  4. Chan JK, Jones SM, Heywood AJ. Body dysmorphia, self-mutilation and the reconstructive surgeon. J Plast Reconstr Aesthet Surg. 2011.PubMed 20392680DOI
  5. Sarwer DB, Polonsky HM. Body Image and Body Contouring Procedures. Aesthet Surg J. 2016.PubMed 27634782DOI
  6. Kam O, Na S, La Sala M, et al. The Psychological Benefits of Cosmetic Surgery. J Nerv Ment Dis. 2022.PubMed 35766540DOI

Artikel ini adalah terjemahan dari informasi kesehatan umum yang disusun dalam bahasa Korea oleh Klinik Bedah Plastik DOY JUN berdasarkan ringkasan (abstrak) makalah di jurnal ilmiah internasional. Metode dan hasil perawatan berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing, jadi pastikan diagnosis dan rencana yang tepat melalui konsultasi dengan dokter spesialis.

Lihat semua panduan Perawatan Sebelum & Sesudah Operasi

Tanya Jawab Dokter

Semua Tanya Jawab

Baca juga

Konsultasi · Reservasi

Reservasi Cepat

+82-2-511-7705

Konsultasi

Jam Praktik & Lokasi

Lantai 12, Gedung Urbanhive, 476 Gangnam-daero, Gangnam-gu, Seoul

doyjunps@naver.com

Konsultasi Telepon

Jam Praktik

Senin sampai Jumat

10:00 ~ 19:00

Sabtu

10:00 ~ 17:00

※Tanpa istirahat makan siang di semua hari praktik